SUKABUMI, REPORTIKANEWS.com – Pengrajin gula merah asal Kampung Citanglar, Desa Citanglar, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi mengungkapkan selama tiga minggu terahit ini hasil produksinya mengalami penurunan drastis.
Adapun penyebab menurunya hasil produksi gula merah, karena menurunkan hasil produksi bahan baku berupa nira yang dihasilkan disetiap pohon kelapanya.
“Menurunya hasil produksi di akibatkan selama beberapa pekan ini curah hujan meningkat, sehingga sangat kesulitan pengrajin untuk mengambil bahan baku nira. Soalnya saat musim penghujan pohon kelapa rata-rata kondisinya sangat licin, ” ungkap salah seorang pengrajin gula di Kampung Citanglar, Apih Mamat (39) kepada media, Minggu (4/5/2025).
Apih mengakui, selama musim penghujan,hasil rata-rata setiap harinya hanya mampu memproduksi biang buat gula sebanyak 40 liter, padahal saat kondisi cuaca normal bisa mencapai 100 liter.
“Jadi saat ini hasil produksi gula merah yang dihasilkan pun menjadi menurun drastis hingga separohnya sekitar 50 persenan, ” katanya.
Apih menjelaskani penurunan hasil produksi gula sangat berdampak terhadap pendapatan hasil penjualan gula merah setiap harinya. Saat cuaca normal pendapatan rata-rata hasil penjualan gula bisa mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu.
“Sedangkan saat kondisi cuaca buruk seperti sekarang ini pendapatan dari hasil penjualan gula hanya bisa mencapai separohnya berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu, ” ungkapnya.
Selama cuacai curah hujan terus meningkat kemungkinan hasil produksi gula merah akan terus menurun drastis. Karena para pengrajin sangat kesulitan mengambil biang nira dari atas pohon kelapa.
“Para pemngrajin gula saat curah hujan meningkat otomatis tidak bisa berspukulasi atau berusaha nekad mengambil biang ketas pohon kelapa dalam kondisi hujan dan licin.kalo dipaksakan akan membahayakan dan mengancam keselamatan jiwa, ” katanya.
Para pengrajin gula merah terpaksa harus menunggu cuaca normal,Paslnya pengrajin gula merah tidak bisa memaksakan mengambil bahan baku nira keatas pohon kelapa seperti saat kondisi sedang normal.
“Ya, karena alasanya jika memanjat pohon saat kondisi hujan dan licin, maka akan mengancam keselamatan jiwa, ” ungkapnya.
Apih menambahkan selain pengrajin gula merah dikeluhkan kesulitan memperoleh bahan baku, juga rendahnya harga penjualan gula merah yang diterima para tengkulak.”Apalagi saat ini harga gula merah perkilonya hanya diterima tengkulak seharga Rp 7000, ” ungkapnya.
Ditambah dengan masih rendahnya penjulan gula merah para pengrajin hanya memperoleh keuntungan sangat minim. Terlebih untuk memproduksi gula merah harus menggunakan kayu bakar.
“Sementara para pengrajin selama ini untuk memperoleh kayu bakar harus membeli kepada warga, ” katanya.
Apih bersama para petani yang lainya berharap kondisi cuaca akan kembali normal sehingga pendapatan pengrajin pun akan kembali stabil.
“Tidak seperti sekarang pengrajin gula menjadi makin terpuruk,dan mengharapkan untuk meningkatkan kesejahteraan para pengrajin gula kedepan pemerintah bisa memfasilitasi pasar untuk penjualan gula merah dengan harga yang standar. Kalau selama ini harga pasaran gula terus menerus ditentukan para tengkulak, maka kesejahteraan pengrajin akan sulit meningkat, ” tandasnya.*
Editor : Rudi Samsidi.



















